ada sebuah tulisan yang kubaca di salah satu blog, tulisan yang cukup membuatku sedikit gusar. bukan gusar karena tulisannya, melainkan gusar atas apa pengaruh tulisan itu pada hari-hariku. kurang lebih, begini kutipan dari sebuah kutipan pada tulisan itu.
Suatu hari, Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa as: Hai Musa, bila
nanti kau akan bertemu dengan-Ku lagi, bawalah seseorang yang menurutmu
kamu lebih baik daripada dia.
Nabi Musa as. lalu pergi ke mana-mana; ke jalanan, pasar, dan
tempat-tempat ibadat. Ia selalu menemukan dalam diri setiap orang itu
suatu kelebihan dari dirinya. Mungkin dalam beberapa hal yang lain,
orang itu lebih jelek dari Nabi Musa, tetapi Nabi Musa selalu menemukan
ada hal pada diri orang itu yang lebih baik dari dirinya. Nabi Musa
tidak mendapatkan seorangpun yang mengenainya Nabi Musa dapat berkata:
Aku lebih baik dari dia.
Karena gagal menemukan seseorang itu, Nabi Musa masuk ke
tengah-tengah binatang. Dalam diri binatangpun ternyata selalu ada
hal-hal yang lebih baik daripada Nabi Musa. Sampai akhirnya Nabi Musa
melewati seekor anjing kudisan. Nabi Musa berpikir, Mungkin sebaiknya
aku pergi membawa dia. Ia pun lalu mengikat leher anjing itu dengan
tali. Namun ketika sampai di suatu tempat, Nabi Musa melepaskan anjing
itu.
Ketika Nabi Musa datang untuk bermunajat lagi di hadapan Allah SWT,
Tuhan bertanya: Hai Musa, mana orang yang Aku perintahkan kepadamu
untuk kaubawa?
Nabi Musa menjawab: Tuhanku, aku tidak menemukan seseorang pun yang aku lebih baik darinya.
Tuhan lalu berfirman: Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sekiranya
kamu datang kepadaku dengan membawa seseorang yang kamu pikir kamu
lebih baik darinya, Aku akan hapuskan namamu dari daftar kenabian.
benar juga, seringkali kita merasa bahwa kita adalah orang yang lebih, padahal di sisi lain dan mungkin nyatanya kita bukan siapa-siapa. kita lebih tua, kita lebih pintar, dan lain sebagainya.
pada akhirnya kita memang harus mengakui kekalahan kita atas orang lain. selebihnya, aku bertanya pada diri sendiri, betapa mudahnya diri ini berkaca untuk kemudian mengatakan bahwa diri ini lebih dari orang lain, padahal nyatanya, kita hanya tidak tahu saja apa kelebihan mereka di banding kita.
Astagfirullahaladzim, Astagfirullahaladzim, Astagfirullahaladzim,…
laa haula wa laa quwwata illa billahilaliyyil adzim